PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK


DOSEN PENGEMPU : H.M. YUNUS WINARNO S.Pd.,M.Pd
PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

BAB I
Konsep dan Lingkup Landasan Psikologis

landasan psikologis, tujuan, kegunaan, ruang lingkup, landasan psikologi dalam proses pembelajaran
A1. Landasan Psikologis.
Psikologi atau ilmu jiwa adalah ilmu yang mempelajari jiwa manusia. Jiwa itu sendiri adalah roh dalam keadaan mengendalikan jasmani. Yang dapat dipengaruhi oleh alam sekitar. Jiwa manusia berkembang sejajar dengan pertumbuhan jasmaninya.
Contoh: Dalam perkembangan jiwa dan jasmani inilah seyogyanya anak-anak belajar, sebab pada masa ini mereka peka untuk belajar, punya waktu banyak untuk belajar belum berumah tangga, bekerja, dan bertanggung jawab terhadap kehidupan keluarga.

A2. Pengertian Psikologi
Psikologi berasal dari kata Psyche (Yunani) yang artinya Jiwa, dan Logos (Yunani) artinya ilmu pengetahuan. Jadi secara etimologi ( menurut arti kata ) psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, proses maupun latar belakangnya, dengan singkat disebut ilmu jiwa.

Psikologi pendidikan adalah : suatu studi kejiwaan dari bidang pendidikan/studi dari bidang pendidikan yang akhirnya diarahkan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi proses pendidikan dan pengajaran.

Pengertian Psikologi Perkembangan
Berdasarkan pendapat beberapa ahli, psikologi perkembangan dapat diartikan sebagai berikut :
Psikologi perkembangan merupakan cabang dari psikologi yang mempelajari proses perkembangan individu, pada sebelum maupun setelah kelahiran serta kematangan perilaku.

A3. Tujuan
Dengan mempelajari psikologi pendidikan, seorang guru / calon guru memiliki bekal pemahaman psikologis, maka dapat :
• merumuskan tujuan pembelajaran dengan tepat,
• memilih strategi atau metode pembelajaran,
• memilih alat bantu dan media pembelajaran yang tepat,
• memberikan bimbingan atau memberikan konseling kepada peserta didiknya,
• dan memotivasi belajar peserta didik,
• menciptakan iklim belajar yang kondusif,
• berinteraksi secara bijak dengan peserta didiknya,
• memberikan hasil nilai pembelajaran dengan tepat, dan
• dapat mengadministrasikan pembelajaran secara efektif dan efisien.

A4. Kegunaan
Secara praktis Psikologi pendidikan berguna pada mereka yang terlibat dalam proses kegiatan belajar mengajar.
a. Bagi perencana pendidikan
b. Bagi para guru / calon guru
c. Bagi para orang tua

A5. Ruang Lingkup Psikologi Pendidikan

• Masalah perkembangan dan pertumbuhan individu
• Masalah belajar mengajar
• Masalah pengukuran dan penelitian
• Masalah bimbingan dan penyuluhan

A6. Landasan Psikologi Dalam Proses Pembelajaran
Kegiatan belajar mengajar yang diselenggarakan dalam bentuk klasikal cenderung kurang memperhatikan karakteristik aspek individual. Sehubungan dengan minat, bakat dan kemampuan siswa yang berbeda maka perlu sekali seorang guru memperhatikan kebutuhan siswa dengan memperhatikan aspek psikologisnya, dikaitkan dengan cita-cita, bakat, minat, milliu ( lingkungan ), dan kemampuan siswa. Factor psikologis seorang siswa yang terabaikan maka adalah awal dari kegagalan dari proses belajar mengajar, sekalipun sangat sulit memenuhi tuntutan dan harapan akan kebutuhan factor individual tiap siswa.

BAB II
Konsep Perkembangan
(pengertian, prinsip-prinsip, faktor-faktor yang mempengaruhi proses perkembangan, tugas-tugas perkembangan, aspek-aspek perkembangan, kecerdasan emosional dalam pembelajaran, karakteristik fase perkembangan) .

B1. Pengertian Perkembangan
Perkembangan diartikan : “Perubahan yang progresif dan kontinyu (berkesinambungan) dalam diri individu dari mulai lahir sampai mati”.

Dalam arti lain “Perubahan-perubahan yang dialami individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya atau kematangannya (maturation) yang berlangsung secara sistematis, progresif, dan berkesinambungan, baik menyangkut fisik maupun psikis”.
Juga dalam arti lain “perkembangan merupakan pengertian dimana terdapat struktur yang terorganisasi dan mempunyai fungsi-fungsi tertentu, oleh karena itu bilamana terjadi perubahan struktur baik dalam organisasi maupun dalam bentuk, akan mengakibatkan perubahan fungsi”.
Ada beberapa pendapat yang berbeda untuk memberi arti istilah “ pertumbuhan “ dan “ perkembangan “. Dalam kehidupan anak pertumbuhan dan perkembangan beroprasi secara interpendensi artinya saling bergantung satu sama yang lain, kedua proses ini tidak bisa dipisahkan dalam bentuk yang tersendiri secara pilah berdiri sendiri-sendiri, akan tetapi bisa dibedakan untuk maksud lebih memperjelas penggunaanya. Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yang menyangkut peningkatan ukuran dan struktur biologis. Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat, dalam perjalanan waktu tertentu.
B2. Prinsip-prinsip Perkembangan
a. Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti
b. Semua aspek perkembangan saling mempengaruhi
c. Perkembangan itu mengikuti pola atau arah tertentu
d. Perkembangan terjadi pada tempo yang berlainan
e. Setiap fase perkembangan mempunyai ciri khas
f. Perkembangan itu antara anak satu berbeda dengan anak yang lain.
g. Perjuangan sebagai cirri perkembangan

B3. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses perkembangan
Ada empat faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif yaitu :
1) lingkungan fisik
2) kematangan
3) pengaruh sosial
4) proses pengendalian diri (equilibration)

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan :
a. Faktor Turunan ( Warisan )
b. Lingkungan
c. Pendapaat Para Ahli Tentang Faktor – faktor yang Mempengaruhi Proses Perkembangan
• Aliran Nativisme ( Aliran Pesimistis / Pesimis pedeagogis)
Yang dipelopori oleh Arthur Scopenhauer ( 1788-1860) silosof Jerman
Karena para ahli dalam aliran ini memandang segala sesuatu dengan kaca mata hitam. Perkembangan idividu hanya dipengaruhi oleh faktor bawaan, lingkungan tidak berpengaruh.
• Aliran Empirisme
Tokoh utama John Locke (1632-1704) Inggris
Doktrin aliran ini yang sangat masyhur adalah teori tabula rasa sebuah istilah bahasa latin yang berarti yang berarti batu tulis kosong atau lembaran kosong ( Blank Slate / blank tablet ).
lingkungan ada 3 macam :
1. Informal
2. Formal
3. Nonformal

• Aliran Naturalisme
Perkembangan individu hanya dipengaruhi oleh lingkungan alam, diserahkan anak pada alam. Campur tangan manusia dengan segala keburukan masyarakat yang serba dibuat-buat (artificial) hanya akan mengkotori perkembangan seorang individu.

• Aliran Konfergensi
Tokoh utama dalam aliran ini adalah Louis William Stern (1871-1938) seorang psikolog dan filosof Jerman.
Merupakan gabungan antara aliran empiris dan nativisme.

B4. Tugas-tugas Perkembangan
a. Pengertian Tugas Perkembangan
Havighuerst (1961) menyatakan bahwa tugas perkembangan adalah ”Tugas yang muncul pada saat periode tertentu dari kehidupan individu, yang jika berhasil akan menimbulkan rasa bahagia dan membawa keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya, akan tetapi kalua gagal menimbulkan rasa tidak bahagia dan kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas berkutnya”.
Tugas perkembangan bersumber pada faktor – faktor :
(1) kematangan fisik;
(2) tuntutan masyarakat secara kultural;
(3) tuntutan dan dorongan dan cita-cita individu iru sendiri; dan
(4) norma-norma agama.

b. Tugas-tugas perkembangan pada setiap fase
Di bawah ini dikemukakan tugas-tugas perkembangan dari setiap fase menurut Havighurst.
I. Tugas Perkembangan Masa Bayi dan Kanak-Kanak Awal (0,0–6.0)
1. Belajar berjalan pada usia 9.0 – 15.0 bulan.
2. Belajar memakan makan padat.
3. Belajar berbicara.
4. Belajar buang air kecil dan buang air besar.
5. Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin.
6. Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis.
7. Membentuk konsep-konsep sederhana kenyataan sosial dan alam.
8. Belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang tua, saudara, dan orang lain.
9. Belajar mengadakan hubungan baik dan buruk dan pengembangan kata hati.
II. Tugas Perkembangan Masa Kanak-Kanak Akhir dan Anak Sekolah (6,0-12.0)
1. Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permainan.
2. Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk biologis.
3. Belajar bergaul dengan teman sebaya.
4. Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya.
5. Belajar keterampilan dasar dalam membaca, menulis dan berhitung.
6. Belajar mengembangkan konsep-konsep sehari-hari.
7. Mengembangkan kata hati.
8. Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi.
9. Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok sosial.
III. Tugas Perkembangan Masa Remaja (12.0-21.0)
1. Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya.
2. Mencapai peran sosial sebagai pria atau wanita.
3. Menerima keadaan fisik dan menggunakannya secara efektif.
4. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya.
5. Mencapai jaminan kemandirian ekonomi.
6. Memilih dan mempersiapkan karier.
7. Mempersiapkan pernikahan dan hidup berkeluarga.
8. Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan bagi warga negara.
9. Mencapai perilaku yang bertanggung jawab secara sosial.
10. Memperoleh seperangkat nilai sistem etika sebagai petunjuk/pembimbing dalam berperilaku.
IV. Tugas Perkembangan Masa Dewasa Awal
1. Memilih pasangan.
2. Belajar hidup dengan pasangan.
3. Memulai hidup dengan pasangan.
4. Memelihara anak.
5. Mengelola rumah tangga.
6. Memulai bekerja.
7. Mengambil tanggung jawab sebagai warga negara.
8. Menemukan suatu kelompok yang serasi.
Sementara itu, Depdiknas (2003) memberikan rincian tentang tugas perkembangan masa remaja untuk usia tingkat SLTP dan SMTA, yang dijadikan sebagai rujukan Standar Kompetensi Layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah, yaitu :
I. Tugas Perkembangan Tingkat SLTP
1. Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Mempersiapkan diri, menerima dan bersikap positif serta dinamis terhadap perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri untuk kehidupan yang sehat.
3. Mencapai pola hubungan yang baik dengan teman sebaya dalam peranannya sebagai pria atau wanita.
4. Memantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam kehidupan sosial yang lebih luas.
5. Mengenal kemampuan bakat, dan minat serta arah kecenderungan karier dan apresiasi seni.
6. Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan kebutuhannya untuk mengikuti dan melanjutkan pelajaran dan atau mempersiapkan karier serta berperan dalam kehidupan masyarakat.
7. Mengenal gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional, sosial dan ekonomi.
8. Mengenal sistem etika dan nilai-nilai sebagai pedoman hidup sebagai pribadi, anggota masyarakat dan minat manusia.
II. Tugas Perkembangan Peserta didik SLTA
1. Mencapai kematangan dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
2. Mencapai kematangan dalam hubungan teman sebaya, serta kematangan dalam perannya sebagai pria dan wanita.
3. Mencapai kematangan pertumbuhan jasmaniah yang sehat
4. Mengembangkan penguasaan ilmu, teknologi, dan kesenian sesuai dengan program kurikulum, persiapan karir dan melanjutkan pendidikan tinggi serta berperan dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas.
5. Mencapai kematangan dalam pilihan karir
6. Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional, sosial, intelektual dan ekonomi.
7. Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang berkehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
8. Mengembangkan kemampuan komunikasi sosial dan intelektual serta apresiasi seni.
9. Mencapai kematangan dalam sistem etika dan nilai.

B5. Aspek-aspek Perkembangan
a. Perkembangan Fisik
Merupakan perubahan fisik menjadi lebih besar dan lebih panjangdan proses terjadinya sejak anak sebelum lahir hingga ia dewasa.
1). Pertumbuhan sebelum lahir
2). Pertumbuhan setelah lahir
Kuhlen dan thomson ( Hurlock, 1956) mengemukakan bahwa perkembangan fisik individu meliputi empat aspek :
1). Sistem Syaraf
2). Otot-otot
3). Kelenjar Endoktrin
4). Struktur Fisik Tubuh
b. Perkembangan Perilaku Psikomotorik
Perkembangan psikomotorik memerlukan adanya koordinasi fungsional antara neuronmuscular system (sistem syaraf dan otot) dan fungsi psikis (kognitif, afektif, konatif).
Dua prinsip utama dalam perkembangan psikomotorik,yaitu :
• Bahwa perkembangan itu berlangsung dari yang sederhana kepada yang kompleks, dan
• Dari yang kasar dan global (gross bodily movements) kepada yang halus dan spesifik dan terkoordinasikan (finely coordinated movements).
Loree dalam Abin Syamsuddin (2003) mengatakan bahwa ada dua macam perilaku psikomotorik utama yang bersifat universal harus dikuasai oleh setiap individu pada masa bayi atau masa kanak-kanak yaitu berjalan (walking) dan memegang benda (prehension). Kedua jenis keterampilan ini menjadi dasar bagi perkembangan keterampilan yang lebih kompleks untuk bermain (playing) dan bekerja (working).
c. Perkembangan Bahasa
Kemampuan berbahasa merupakan kemampuan yang membedakan antara manusia dengan hewan. Perkembangan bahasa dimulai dengan masa meraban, bicara monolog, haus nama-nama, gemar bertanya yang tidak selalu harus dijawab, membuat kalimat sederhana, dan bahasa ekspresif dengan belajar menulis, membaca dan menggambar permulaan.
Tugas-tugas perkembangan Bahasa :
1. Pemahaman
2. Pengembangan Perbendaharaan Kata
3. Penyusunan Kata-kata menjadi Kalimat
4. Ucapan
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa
1. Faktor kesehatan
2. Intelegensi
3. Status Ekonomi Sosial Keluarga
4. Jenis Kelamin
5. Hubungan Keluarga

d. Perkembangan Perilaku Kognitif ( inteligensi )
Dengan menggunakan hasil pengukuran tes inteligensi yang mencakup General Information and Verbal Analogies.
Ada 7 macam intelegensi :
1. Intelegensi Linguistic Verbal
2. Intelegensi Matematis / Logis
3. Intelegensi Ruang Visual
4. Intelegensi Kinestik / Gerakan Fisik
5. Intelegensi Music
6. Intelegensi Sosial
7. Intelegensi Kerohanian

Jones dan Conrad (Loree,1970) menunjukkan bahwa laju perkembangan inteligensi berlangsung sangat pesat sampai masa remaja, setelah itu kepesatannya berangsur menurun.
Dengan berpatokan kepada hasil tes IQ, Bloom (1964) mengungkapkan prosentase taraf perkembangan sebagai berikut :
Usia Perkembangan
1 tahun Sekitar 20 %
4 tahun Sekitar 50 %
8 tahun Sekitar 80 %
13 tahun Sekitar 92 %

Secara kualitatif perkembangan perilaku kognitif diungkapkan oleh J.Piaget, sebagai berikut :

1. Tahap Sensori-Motor (0-2)
Inteligensi sensori-motor dipandang sebagai inteligensi praktis (practical intelligence), yang berfaedah untuk belajar berbuat terhadap lingkungannya sebelum mampu berfikir mengenai apa yang sedang ia perbuat. Inteligensi individu pada tahap ini masih bersifat primitif, namun merupakan inteligensi dasar yang amat berarti untuk menjadi fondasi tipe-tipe inteligensi tertentu yang akan dimiliki anak kelak. Sebelum usia 18 bulan, anak belum mengenal object permanence. Artinya, benda apapun yang tidak ia lihat, tidak ia sentuh, atau tidak ia dengar dianggap tidak ada meskipun sesungguhnya benda itu ada. Dalam rentang 18 – 24 bulan barulah kemampuan object permanence anak tersebut muncul secara bertahap dan sistematis.

2. Tahap Pra Operasional (2 – 7)
Pada tahap ini anak sudah memiliki penguasaan sempurna tentang object permanence. Artinya, anak tersebut sudah memiliki kesadaran akan tetap eksisnya suatu benda yang harus ada atau biasa ada, walaupun benda tersebut sudah ia tinggalkan atau sudah tak dilihat, didengar atau disentuh lagi. Pada periode ditandai oleh adanya egosentris serta pada periode ini memungkinkan anak untuk mengembangkan diferred-imitation, insight learning dan kemampuan berbahasa, dengan menggunakan kata-kata yang benar serta mampu mengekspresikan kalimat-kalimat pendek tetapi efektif.

3. Tahap konkret-operasional (7-11)
Pada periode ditandai oleh adanya tambahan kemampuan yang disebut system of operation (satuan langkah berfikir) yang bermanfaat untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu ke dalam pemikirannya sendiri. Pada dasarnya perkembangan kognitif anak ditinjau dari karakteristiknya sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. Namun masih ada keterbatasan kapasitas dalam mengkoordinasikan pemikirannya.

4. Tahap formal-operasional (11 – dewasa)
Pada periode ini seorang remaja telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara simultan maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif yaitu :
a. Kapasitas menggunakan hipotesis
Kemampuan berfikir mengenai sesuatu khususnya dalam hal pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkungan yang dia respons dan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak.
b. Kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak
Kemampuan untuk mempelajari materi-materi pelajaran yang abstrak secara luas dan mendalam.

e. Perkembangan Perilaku Sosial
Sejak individu dilahirkan ke muka bumi ini ia telah mulai belajar tentang keadaan lingkungan sosialnya. Sosialisasi adalah merupakan upaya mempersiapkan individu untuk dapat berperilaku sesuai dengan lingkungan sosialnya.

Buhler (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan tahapan dan ciri-ciri perkembangan perilaku sosial individu sebagaimana dapat dilihat dalam tabel berikut :

Tahap Ciri-Ciri
Kanak-Kanak Awal ( 0 – 3 )
Subyektif Segala sesuatu dilihat berdasarkan pandangan sendiri
Kritis I ( 3 – 4 )
Trozt Alter Pembantah, keras kepala
Kanak – Kanak Akhir ( 4 – 6 )
Masa Subyektif Menuju
Masa Obyektif Mulai bisa menyesuaikan diri dengan aturan
Anak Sekolah ( 6 – 12 )
Masa Obyektif Membandingkan dengan aturan – aturan
Kritis II ( 12 – 13 )
Masa Pre Puber Perilaku coba-coba, serba salah, ingin diuji
Remaja Awal ( 13 – 16 )
Masa Subyektif Menuju
Masa Obyektif Mulai menyadari adanya kenyataan yang berbeda dengan sudut pandangnya
Remaja Akhir ( 16 – 18 )
Masa Obyektif Berperilaku sesuai dengan tuntutan masyarakat dan kemampuan dirinya

Bentuk-b

Bentuk Tingkah Laku Hasil Dari Hubungan Sosial
1. Pembangkangan
2. Agresion
3. Berselisih/bertengkar
4. Menggoda
5. Persaingan
6. Kerja sama
7. Tingkah Laku Berkuasa
8. Mementingkan Diri Sendiri
9. Simpati, dll

f. Perkembangan Moralitas
Keputusan untuk melakukan sesuatu berdasarkan pertimbangan norma yang berlaku dan nilai yang dianutnya itu disebut moralitas.
Dalam hal ini, Kohlberg mengemukakan tahapan perkembangan moralitas individu, sebagaimana tampak dalam tabel berikut :
Tingkat Tahap
Pre Conventional (0 – 9) 1. Orientasi terhadap kepatuhan dan hukuman
2. Relativistik hedonism
Conventional (9 – 15) 3. Orientasi mengenai anak yang baik
4. Mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas
Post Conventional ( > 15 ) 5. Orientasi terhadap perjanjian antara dirinya dengan lingkungan sosial
6. Prinsip etis universal

g. Perkembangan Penghayatan Keagamaan
(Brightman (1956) menjelaskan bahwa penghayatan keagamaan tidak hanya sampai kepada pengakuan atas kebaradaan-Nya, namun juga mengakui-Nya sebagai sumber nilai-nilai luhur yang abadi yang mengatur tata kehidupan alam semesta raya ini. Oleh karena itu, manusia akan tunduk dan berupaya untuk mematuhinya dengan penuh kesadaran dan disertai penyerahan diri dalam bentuk ritual tertentu, baik secara individual maupun kolektif, secara simbolik maupun dalam bentuk nyata kehidupan sehari-hari.

Abin Syamsuddin (2003) menjelaskan tahapan perkembangan keagamaan sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini :

Tahapan Ciri-Ciri
Masa
Kanak-Kanak Sikap reseptif meskipun banyak bertanya
Pandangan ke-Tuhan-an yang dipersonifikasi
Penghayatan secara rohaniah yang belum mendalam
Hal ke-Tuhan-an dipahamkan secara ideosyncritic (menurut khayalan pribadinya)
Masa Sekolah Sikap reseptif yang disertai pengertian
Pandangan ke-Tuhan-an yang diterangkan secara rasional
Penghayatan secara rohaniah semakin mendalam, melaksanakan kegiatan ritual diterima sebagai keharusan moral
Masa
Remaja Awal Sikap negatif disebabkan alam pikirannya yang kritis melihat realita orang – orang beragama yang hypocrit (pura-pura)
Pandangan ke-Tuhan-an menjadi kacau, karena beragamnya aliran paham yang saling bertentangan
Penghayatan rohaniahnya cenderung skeptik, sehingga banyak yang enggan melaksanakan ritual yang selama ini dilakukan dengan penuh kepatuhan
Masa
Remaja Akhir Sikap kembali ke arah positif, bersamaan dengan kedewasaan intelektual bahkan akan agama menjadi pegangan hidupnya
Pandangan ke-Tuhan-an dipahamkannya dalam konteks agama yang dianut dan dipilihnya
Penghayatan rohaniahnya kembali tenang setelah melalui proses identifikasi dan merindu puja, ia dapat membedakan antara agama sebagai doktrin atau ajaran manusia

h. Perkembangan Perilaku Konatif
Perilaku konatif merupakan perilaku yang berhubungan dengan motivasi atau faktor penggerak perilaku seseorang yang bersumber dari kebutuhan-kebutuhannya.
Freud (Di Vesta & Thompson dalam Abin Syamsuddin,2003) mengemukakan tentang tahapan-tahapan perkembangan perilaku yang berhubungan obyek pemuasan psychosexual, sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini :
Daerah Sensitif Cara Pemuasan Sasaran Pemuasan
A. MASA BAYI DAN KANAK-KANAK (INFANCY PERIOD)
Pre Genital Period Infantile Sexuality
Oral Stage Mulut dan benda
Early Oral Menghisap ibu jari Mulut sendiri, memilih dan memasukkan benda kemulut
Memilih benda dan digigitnya secara sadis
Late Oral Menggigit, merusak dengan mulut
Anal Stage Dubur dan benda
Early Anal
Memeriksa dan memainkan duburnya Memilih benda dan menyentuhnya/memasukkan ke dubur
Late Anal Memainkan dan memperhatikan duburnya
Early Genital Period (phalic stage) Menyentuh, memegang, melihat, menunjukkan alat kelaminnya Ditujukan kepada orang tuanya (oediphus atau electra phantaties)
B. MASA ANAK SEKOLAH (LATENCY PERIOD)
No New Zone
(tidak ada daerah sensitif baru) Represi
Reaksi formasi
Sublimasi dan kecen- derungan kasih sayang Berkembangnya perasaan–perasaan sosial
C. MASA REMAJA (ADOLESENCE PERIOD)
Late Genital Period
Hidup kembali daerah sensitif waktu masa kanak-kanak Mengurangi cara-cara waktu masa kanak-kanak Menyenangi diri sendiri (narcisism) atau objeck oediphus-nya
Objek pemuasannya mungkin diri sendiri/sejenis (homosexual) atau lain jenis (heterosexual)
Akhirnya, siap berfungsinya alat kelamin Munculnya cara orang dewasa memperoleh pemuasan

i. Perkembangan Emosional
Aspek emosional dari suatu perilaku, pada umumnya selalu melibatkan tiga variabel, yaitu :
(1) rangsangan yang menimbulkan emosi (stimulus);
(2) perubahan–perubahan fisiologis yang terjadi pada individu; dan
(3) pola sambutan.

Yang mungkin dirubah dan dipengaruhi adalah variabel yang kesatu (stimus) dan yang ketiga (respons), sedangkan variabel yang kedua merupakan yang tidak mungkin dirubah karena terjadinya pada individu secara mekanis.

Terdapat dua dimensi emosional yang sangat penting untuk dipahami yaitu :
(1) senang – tidak senang (suka-tidak suka); dan
(2) intensitasnya (kuat-lemah).

Bridges (Loree, 1970) menjelaskan proses perkembangan dan diferensiasi emosional pada anak-anak, sebagai berikut :

Usia Ciri-Ciri
Pada saat dilahirkan Bayi dilengkapi kepekaan umum terhadap rangsangan – rangsangan tertentu (bunyi, cahaya, temperatur)
0 – 3 bln Kesenangan dan kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya
3 – 6 bln Ketidaksenangan berdiferensiasi ke dalam kemarahan, kebencian dan ketakutan
9 – 12 bln Kegembiraan berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang
18 bulan pertama Kecemburuan mulai berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang
2 th Kenikmatan dan keasyikan berdiferensiasi dari kesenangan
5 th Ketidaksenangan berdiferensiasi di dalam rasa malu, cemas dan kecewa sedangkan kesenangn berdiferensiasi ke dalam harapan dam kasih sayang
j. Perkembangan Kepribadian
Pengertian kepribadian menurut Gordon W. Allport (1937)
Kepribadian adalah organisasi system jiwa raga yang dinamis dalam diri individu yang menentukan penyesuaian dirinya yang unik terhadap lingkungannya.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Individu ( Kepribadian )
• Keluarga
• Teman Sebaya
• Fisik
• Intelegensi
• Kebudayaan

Erikson dalam Nana Syaodih Sukmadinata, 2005 mengemukakan tahapan perkembangan kepribadian dengan kecenderungan yang bipolar :
1. Masa bayi (infancy) ditandai adanya kecenderungan trust – mistrust. Perilaku bayi didasari oleh dorongan mempercayai atau tidak mempercayai orang-orang di sekitarnya. Dia sepenuhnya mempercayai orang tuanya, tetapi orang yang dianggap asing dia tidak akan mempercayainya.
2. Masa kanak-kanak awal (Early childhood) ditandai adanya kecenderungan autonomy – shame, doubt. Pada masa ini sampai-batas-batas tertentu anak sudah bisa berdiri sendiri, dalam arti duduk, berdiri, berjalan, bermain, minum dari botol sendiri tanpa ditolong oleh orang tuanya, tetapi di pihak lain dia ga telah mulai memiliki rasa malu dan keraguan dalam berbuat, sehingga seringkali minta pertolongan atau persetujuan dari orang tuanya.
3. Masa pra sekolah (Preschool Age) ditandai adanya kecenderungan initiative – guilty. Pada masa ini anak telah memiliki beberapa kecakapan, dengan kecakapan-kecakapan tersebut dia terdorong melakukan beberapa kegiatan, tetapi karena kemampuan anak tersebut masih terbatas adakalanya dia mengalami kegagalan. Kegagalan-kegagalan tersebut menyebabkan dia memiliki perasaan bersalah, dan untuk sementara waktu dia tidak mau berinisatif atau berbuat.
4. Masa Sekolah (School Age) ditandai adanya kecenderungan industry–inferiority. Sebagai kelanjutan dari perkembangan tahap sebelumnya, pada masa ini anak sangat aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. Dorongan untuk mengatahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar, tetapi di pihak lain karena keterbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya kadang-kadang dia menghadapi kesukaran, hambatan bahkan kegagalan. Hambatan dan kegagalan ini dapat menyebabkan anak merasa rendah diri.
5. Masa Remaja (adolescence) ditandai adanya kecenderungan identity – Identity Confusion. Sebagai persiapan ke arah kedewasaan didukung pula oleh kemampuan dan kecakapan–kecakapan yang dimilikinya dia berusaha untuk membentuk dan memperlihatkan identitas diri, ciri-ciri yang khas dari dirinya. Dorongan membentuk dan memperlihatkan identitas diri ini, pada para remaja sering sekali sangat ekstrim dan berlebihan, sehingga tidak jarang dipandang oleh lingkungannya sebagai penyimpangan atau kenakalan.
6. Masa Dewasa Awal (Young adulthood) ditandai adanya kecenderungan intimacy – isolation. Kalau pada masa sebelumnya, individu memiliki ikatan yang kuat dengan kelompok sebaya, namun pada masa ini ikatan kelompok sudah mulai longgar.
7. Masa Dewasa (Adulthood) ditandai adanya kecenderungan generativity – stagnation. Sesuai dengan namanya masa dewasa, pada tahap ini individu telah mencapai puncak dari perkembangan segala kemampuannya.
8. Masa hari tua (Senescence) ditandai adanya kecenderungan ego integrity – despair. Pada masa ini individu telah memiliki kesatuan atau intregitas pribadi, semua yang telah dikaji dan didalaminya telah menjadi milik pribadinya.
Kedelapan tahapan perkembangan kepribadian dapat digambarkan dalam tabel berikut ini :
k. Perkembangan Karier
Perkembangan karier sangat erat kaitannya dengan pekerjaan seseorang.
Tylor & Walsh (1979) menyebutkan bahwa kematangan karier individu diperoleh manakala ada kesesuaian antara perilaku karier dengan perilaku yang diharapkan pada umur tertentu. Adapun yang dimaksud dengan perilaku karier yaitu segenap perilaku yang ditampilkan individu dalam usaha menyiapkan masa depan untuk memperoleh kematangan kariernya.
B6. Konsep Kecerdasan Emosional dalam Pembelajaran
KE (kecerdasan emosional) adalah kemampuan seperti kemampuan untuk memotivasi diri sendiri, dan bertahan menghadapi frustrasi, menghadapi dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan , mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berfikir, berempati dan berdoa.

(Goleman, 1997 : 45). KE ini dikategorikan dalam lima wilayah:
• Mengenali emosi diri
• Mengelola suasana hati
• Memotivasi diri sendiri
• Mengenali emosi orang lain
• Membina hubungan
I. Pengaruh emosi terhadap perilaku dan perubahan fisik individu
a. Memperkuat semangat
b. Melemahkan semangat
c. Menghambat atau mengganggu konsentrasi belajar
d. Terganggu penyesuaian social
e. Suasana emosional yang diterima dan dialami individu akan mempengaruhi sikapnya di kemudian hari
II. Ciri-Ciri Emosi
• Lebih bersifat subjektif daripada peristiwa psikologis lainnya seperti pengamatan dan berfikir.
• Bersikap Fluktuatif ( Tidak Tetap )
• Banyak berkenaan dengan panca indra
III. Pengelompokan Emosi
a) Emosi Sensoris
yaitu emosi yang ditimbulkan oleh rangsangan dari luar terhadap tubuh, seperti rasa dingin, manis, sakit, lelah, kenyang dan lapar
b) Emosi Psikis
1. Perasaan Intelektual
2. Perasaan Sosial
3. Perasaan Susila
4. Perasaan Keindahan
5. Perasaan Ketuhanan
B7. Karakteristik Fase Perkembangan
1. Fase pra natal (saat dalam kandungan) adalah waktu yang terletak antara masa pembuahan dan masa kelahiran. Pada saat ini terjadi pertumbuhan yang luar biasa dari satu sel menjadi satu organisme yang lengkap dengan otak dan kemampunn berperilaku, dihasilkan dalamwaktu Iebih kurang sembilan bulan.
2. Fase bayi adalah saat perkembangan yang brrlangsung sejak lahir sampai 18 atau 24 bulan. Masa ini adalah masa yang sangat. Bergantung kepada orang tua. Banyak kegiatan-kegiatan psikologis yang baru dimulai misalnya; bahasa, koordinasi sensori motor dan sosialisasi.
3. Fase kanak-kanak awal adalah fase perkembangan yang berlangsung sejak akhir masa bayi sampai 5 atau 6 tahun, kadang-kadang disebut masa pra sekolah. Selama fase ini mereka belajnr melakukan sendiri banyak hal dan berkembang keterampilan-keterampilan yang berkaitan dengan kesiapan untuk bersekolah dan memanfaatkan waktu selama beberapa jam untuk bermain sendiri ataupun dengan temannya. Memasuki kelas satu SD menandai berakhirnya fase ini.
4. Fase kanak-kanak tengah dan akhir adalah fase perkembangan yang berlangsung sejak kira-kira umur 6 sampai 11 tahun, sama dengan masa usia sekolr.h dasar. Anak-anak menguasai keterampilan-keterampilan dasar membaca, menulis dan berhitung. Secara formal mereka mulai
memastiki dunia yang lebih luas dengan budayanya. Pencapaian prestasi menjadi arah perhatian pada dunia anak, dan pengendalian diri sendiri bertambah pula
5. Masa remaja adalah masa perkembangan yang merupakan transisi dr.ri masa Nanak-kanak ke masa dewasa? aval, yang dimulai kira-kira umur 10 sampai 12 tahun dan berakhir kira-kira umur 18 sampai 22 tahun. Remaja mengalami perubahan-penibahan fisik yang sangat cepat, perubahan perbandingan ukuran bagian-bagian badan, bcrkembangnya karakteristik seksual seperti membesarnya payudara, tumbuhnya rambut pada bagian tertentu dan perubahan sua.a.

B. Karakteristik dan perbedaan individu ( Konsep individu, factor yang mempengaruhi perilaku individu, perbedaan indifidu, aspek-aspek pertumbuhan dan perkebangan individu)
1. Konsep Individu
Manusia adalah mahkluk yang dapat dipandang dari berbagai sudut pandang.
Bangsa Indonesia menganut suatu pandangan, bahwa yang dimaksud manusia secara utuh adalah manusia sebagai pribadi yang merupakan pengejawantahan manunggalnya berbagai cirri atau karakter hakiki atau sifat kodrati manusia yang seimbang antar berbagai segi.
Yaitu antar segi :
(1) individu dan social,
(2) jasmani dan rohani, dan
(3) dunia dan akhirat.

2. Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Individu ( Kepribadian )
• Keluarga
• Teman Sebaya
• Fisik
• Intelegensi
• Kebudayaan

3. Perbedaan Individu
Sifat individual adalah sifat yang bersangkutan dengan orang perseorangan. Ciri dan sifat yang satu berbeda dengan orang yang lain. Maka perbedaan dalam perbedaan individual menurut Landgren (1980:578) menyangkut fariasi yang terjadi, baik variasi pada aspek fisik maupun nonfisik.

4. Aspek-aspek Pertumbuhan & Perkebangan Individu
• Aspek Kognitif
• Aspek Afektif
• Aspek Motorik

C. Pemahaman Pribadi Siswa ( Tujuan dan kegunaan pemahaman, aspek-aspek yang dipahami, teknik-teknik pemahaman, penggunaan hasil pemahaman)

A1. Tujuan dan penggunaan

A2. Aspek-aspek yang dipahami
Hakekatnya manusia yang utuh itu sebagai makhluk individu dan makhluk social.
Kehidupan pribadi merupakan bentuk integrasi atara factor fisik, sosbud, dan factor psikologis.
Hakekatnya manusia selalu ingin tahu, dengan demikian mereka selalu berupaya mengejar pengetahuan.

A3. Tehnik-tehnik pemahaman
Memahami pribadi siswa melalui beberapa faktor :
a. Faktor Ekonomi
b. Faktor Lingkungan
c. Faktor Pandangan Hidup

A4. Penggunaan Hasil Pemahaman

D. Perkembangan Remaja ( Pengertian, ciri-ciri, proses perubahan, karakteristik pertumbuhan dan perkembangan remaja, kebutuhan remaja)
1. Pengertian
Kata “remaja” berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti to grow atau to grow maturity (Golinko, 1984 dalam Rice, 1990). Banyak tokoh yang memberikan definisi tentang remaja, seperti DeBrun (dalam Rice, 1990) mendefinisikan remaja sebagai periode pertumbuhan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Papalia dan Olds (2001) tidak memberikan pengertian remaja (adolescent) secara eksplisit melainkan secara implisit melalui pengertian masa remaja (adolescence).
Menurut Papalia dan Olds (2001), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun.
Menurut Adams & Gullota (dalam Aaro, 1997), masa remaja meliputi usia antara 11 hingga 20 tahun. Sedangkan Hurlock (1990) membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau 17 tahun hingga 18 tahun). Masa remaja awal dan akhir dibedakan oleh Hurlock karena pada masa remaja akhir individu telah mencapai transisi perkembangan yang lebih mendekati masa dewasa.
Papalia & Olds (2001) berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa. Sedangkan Anna Freud (dalam Hurlock, 1990) berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orangtua dan cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan.

2. Ciri-ciri,
Menurut Konopka ( pikunas, 1976) masa remaja ini meliputi
a. Remaja Awal 12-15 tahun
b. Remaja Madya 15-18 tahun
c. Remaja Akhir 18-22 tahun

3. Proses perubahan,

4. Karakteristik pertumbuhan dan perkembangan remaja,

5. Kebutuhan remaja
Kebutuhan dapat dibedakan menjadi 2 :
a. Kebutuhan Primer ( Biologis / Organik )
b. Kebutuhan Sekunder

Cole dan Bruse(1959) (oxendine, 1984:227) yaitu Kebutuhan Fisiologis dan kebutuhan Psikologis dan Murray (1938) (oxendine, 1984:227) Yaitu : viscerogenic dan psychogenic.

Kebutuhan yang dikemukakan Maslow( Lefton,1982:171) yaitu :

Kebutuhan Aktualisasi diri
Kebutuhan Kognitif
Kebutuhan Penghargaan
Kebutuhan Cinta Kasih
Kebutuhan Keamanan
Kebutuhan Jasmaniah

E. Fungsi Guru Bagi Remaja ( konsep guru, kematangan pribadi, kemampuan professional, kemampuan guru berkomunikasi )
A1. Konsep Guru
Fungsi pendidikan sebagai transformasi norma
Sifat-sifat Guru (Ryans dalam Garrison;1956)
a. Memberikan kesempatan ( alert ) tampak antusias didalam kelas
b. Ramah ( Cheerful / optimis )
c. Mampu mengontrol diri
d. Senang kelakar ( Humoris )
e. Mengetahui dan mengakui kekurangan dirinya
f. Jujur dan objective dalam memperlakukan siswa
g. Pengertian dan simpati kepada siswa

Menurut Covey (1997) ada empat prinsip peranan guru dalam tumbuh kembang anak-anak, yaitu:
a. Modelling (Example of trustworthness).
Guru adalah contoh atau model bagi anak.
b. Mentoring
yaitu kemampuan untuk menjalin atau membangun hubungan, investasi emosional atau pemberian perlindungan kepada orang lain secara mendalam, jujur, pribadi dan tidak bersyarat.
Ada lima cara untuk memberikan kasih sayang pada orang lain:
(1) empathiing : mendengarkan hati orang lain dengan hati sendiri;
(2) sharing : berbagi wawasan, emosi dan keyakinan;
(3) affirming : memberikan ketegasan/penguatan kepada orang lain melalui kepercayaan, penilaian, konfirmasi, apresiasi dan dorongan;
(4) praying : mendoakan orang lain secara ikhlas dari hati yang paling dalam
(5) sacrificing : berkorban untuk diri orang lain.

c. Organazing
Yaitu sekolah memerlukan tim kerja dan kerjasama antar anggota dalam memenuhi tugas-tugas atau kebutuhan sekolah dan hal-hal penting.
d. Teaching.
Guru berperan sebagai pengajar bagi anak-anak tentang hukum-hukum dasar kehidupan.

A2. Kematangan Pribadi
Mengukur kepribadian :
1). Observasi
2). Interview
3). Inventory
4). Tehnik Proyektif
5). Biografi dan autobiografi
6). Catatan Harian

Ciri-ciri psikologis orang dewasa (Gordon Allport):
(1) Adanya usaha pribadi pada salah satu lapangan yang penting dalam kebudayaan, seperti pekerjaan, politik, agama, seni, dan ilmu pengetahuan;
(2) Kemampuan untuk mengadakan kontak yang hangat dalam hubungan-hubungan yang fungsional maupun tidak fungsional;
(3) Adanya suatu stabilitas batin yang fundamental dalam dunia perasaan dan dalam hubungannya dengan penerimaan diri sendiri;
(4) Pengamatan, pikiran, dan tingkah laku menunjukkan sifat realitas yang jelas, tetapi masih ada relativitasnya;
(5) Dapat melihat diri sendiri seperti adanya dan melihat segi kehidupan yang menyenangkan; dan
(6) Menemukan suatu bentuk kehidupan yang sesuai dengan gambaran dunia atau filsafat hidup yang dapat merangkum kehidupan menjadi suatu kesatuan.
A3. Kemampuan Profesional

A4. Kemampuan guru berkomunikasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s